Kamis, 21 Oktober 2010

MODEL KONSEP KEPERAWATAN







AWAL PERKEMBANGAN PERAWATAN
Pada awal kelahiranya keperawatan dikenal sebagai bentuk pelayanan comunitas dan pembentukanya berkaitan erat dengan dorongan alami untuk melayani dan melindungi keluarga (Donahue,1995). keperawatan lahir atas bentuk keinginan untuk menjaga seseorang agar tetap nyaman dan sehat, pelayanan dan keamanan serta keamanan bagi orang yang sakit. (Potter,2005)
Peran perawat pada awalnya dilakukan oleh Deakonia, dibawah perintah gereja. Oleh karena itulah keperawatan pada kelahiranya di kenal dengan adanya biara wati yang datang kerumah-rumah warga yang sakit. dari sanalah nilai inti keperawatan ditumbuhkan. sebuah bentuk pengabdian secara tulus dari orang-orang yang peduli terhadap kesehatan orang-orang disekitarnya yang membutuhkan pertolongan.
Seiring perkembanganya keperawatan telah berhasil dalam memisahkan disiplin ilmunya dengan disiplin ilmu kedokteran. dalam membedakan disiplin para ahli dibidang keperawatan telah menyusun landasan-landasan pengetahuan keperawatan yang mampu dibedakan dari landasan pengetahuan disiplin lainya. salah satu cara ialah dengan membuat teori-teori keperawan yang akan menjadi Frame work perawat dalam menjalankan tugasnya.
Keperawatan modern yang lahir setelah melewati perubahan-perubahan yang fundamental dari keseluruhan proses yang panjang menghadirkan pendangan baru dalam proses keperawatan. dalam keperawatan modern, keperawatan bukan hanya sebuah ilmu terapan, melainkan juga sebuah seni, aktivitas tindangan yang berdasarkan ilmu yang diberikan dengan menghadirkan nilai-nilai keindahan (seni) yang mencakup aktivitas, konsep, ilmu social, dan fisik dasar,etika, dan isu-isu keperawatan, serta ilmu-ilmu yang mendukung dalam proses keperawatan.
Karena banyaknya keragaman dalam keperawatan , perawat perlu memiliki filosopi dan teori-teori praktik keperawatan untuk membentuk arah pengembangan profesi dimasa yang akan datang. keperawatan pada abad 21 telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan ini ikut serta dalam pembentukan paradigma keperawatan. Perubahan ini pula mengharuskan adanya perubahan peran, perubahan system, dan perubhan dalam pelayanan kesehatan yang mampu menjawab tangtangan terhadap keperawatan.
Dalam perkembanganya pendidikan keperawatan, maka praktik perawatan juga mengalami perubahan. pada awal tahun 1900an spesialisasi keperawatan juga dikembangan. Tepatnya pada thun 1920 dimulai dengan spesialisasi keperawatan bidan, yang kemudian diikuti dengan dibentuknya Asosiasi of Operating room Nurses pada 1950, American Association of Clinical Care Nurses (1969 dan ongkology nursing Society (1975)
PERKEMBANGAN TEORI KEPERAWATAN
Teori keperawatan pada mulanya dalam bentuk Filosopi yang dikenalkan oleh Nightingale. Pandangan nightingale terhadap keperawatan dimana dia menurunkan keperawatam dari filosofi spiritual yang berkembang dalam masa remaja dan ketika dia dewasa (Macrae, 1995). bentuk kepedulianya ialah keseriusanya dalam analisis statistic yang mengaitkan sanitasi yang buruk dengan terjadinya kolera dan disentri. Ia memandang keperawatan sebagai suatu jalan untuk mencari kebenaran dalam mendapatkan jawaban atas pertanyaan masalah kesehatan dan menggunakan hukum penyembuhan tuhan tuhan dalam praktik keperawatan (Macrae, 1995)
Teori-teori yang berkembang ialah hasil dari pengembangan atau penggabunagn konsef dan pernyataan yang berfokus pada kejadian dan fenomena dari suatu disiplin. Teori mempunyai konstribusi pada pembentukan dasar praktik keperawtan (Chinn dan Jacobs, 1995). Perkembangan ilmu ini mencangkup pengetahuan umum, penetahuan ini dapat diintegrasikan dengan disiplin ilmu yang lain. kesatuan ilmu tadi membuat sebuah konsep dasar tentang sebuah permasalahan yang sedang dikaji sehingga melahirkan sebuah teori keperawatan.
Pada perkembanganya teori keperawatan yang dipelajari dalam lingkungan akademik yang terpisah dari kegiatan praktik keperawatan. Akan tetapi terus terjadi perubahan kontemporer yang mengacu praktik keperawatan berdasarkan ilmu pengetahuan (Donaldson, 1995). Diharapkan proses keperawatan akan memiliki model yang mampu menghantarkan keperawatan lebih berkualitas yang dilakukan oleh para Profesional.
Karena keperawatan terus berkembang, perwat membuat sebuah hipótesis-hipotesis tentang praktik keperawatan, prinsip yang paling mendasari praktik keperawatan dan tujuan serta fungsi yang sesuai dengan keperawatan di masyarakat. Model konsep serta teori keperawatan digunakan untuk memberikan pengetahuan untuk meningkatkan praktik, penuntun penelitian dan kurikulum, serta mengidentifikasikan bidang dan tujuan dari praktik keperawatan. teori keperawatan menuntun para perawat dengan memberikan tujuan pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervenís, landasan berkomunikasidan nilai-nilai etika, akuntabilitas profesional. teori-teori tersebut juga digunakan sebafgai arah dalam melakukan peneltian, praktik, pendidikan, dan administrasi keperawatan.(Meleis, 1985)
Dalam semua aktivitas menuju pemandirian disiplin ilmu, keperwatan telah mengembangkan sebuah konsep dasar yang mencoba menunjukan perbedaan yang benar-benar nyata dengan disiplin kedokteran. Keperawatan yang dirintis pertamakali oleh Nightingale telah membawa semangat bahwa keperawatan yang merupakan sebuah profesi yang membutuhkan pengetahuan yang berbeda dengan disiplin ilmu yang lain, seperti kedokteran. Oleh karena itulah, dalam keperawatan dikenal kiat-kiat dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang sesuai dengan pengetahuan.

1. MODEL KONSEP DOROTHEA OREM
PENDAHULUAN
Dalam Teori keperawatan bila kita perhatiakan, kesemuanya teori tersebut akan berorientasi pada satu bidang cakupan dalam keperawatan. misalkan Nightingale menyoroti masalah lingkungan, henderson lebih pada pemenuhan kebutuhan dasarnya, selain itu ada juga teori yang berorientasi pada otimalisasi peran klian dalam proses penyembuhanya. kesemua teori tersebut bersinergi dalam membentuk suatu sistem yang holistik dengan penjelaan masalah yang detail. Sehingga mampu memberikan konstribusi dalam memberikan arah asuhan.
Salah satu teori yang tekenal dengan pemandirian klien adalah Dorotea Orem (1971). Orem yang terkenal dengan Self-Care Dependent-Care Nursing. dalam pandangan orem bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. Tapi pada situasi tertentu kemampuan itu tidak bisa tampil, dista inilah teori orem akan menjelaskan bahwa, kebutuhan manusia apapun kondisinya ahíla sama, tergantung bagaimana individunya memenuhi kebuthan itu. bila kebutuhanya terpenuhi dengan baik maka tidak akan ditemukan masalah, berbeda dengan orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhanya makan akan mengalami deficiet.
Orem dengan tegas mencoba mengoptimalkan kemampuan alami setiap klien dalam memenuhi kebutuhanya. peran perawat dalam teori merupakan sebagai agen yang mampu membantu klien dalam mengembalikan peranya sebagai self care agency. Sisitem yang di bagun dari tiga teori utama ini mampu menghasilkan kolaborasi pelayanan keperawatan yang unik. tidak hanya dari prosesnya, tapi juga dari hasilnya akan mampu membuat klien mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.
Teori ini mampu memberikan tentang bentuk asuhan yang harus diberikan pada klien pada keadaan tertentu. antara klien dan perawat harus memiliki pemahaman tentang pendangan self-care. Proses yang lebih bertumpu pada pelayanan terapeutik yang mandiri dengan melibatkan setiap individu agar mampu melkuanya secara mandiri.
self-care deficit nursing theory of nursing, calculation of therapeutic self-care demand (TSCD) is avital step in which theclient care needs are specified. Both clients and nurses need to have an understanding of this prescription for (or dependent care). The process of determining therapeutic self-care demand involves the formulation of actionoriented statements that particularize the individualized type and amount of self-care action needed for persons. Particularized self-care requisite (PSCR) statements are developed with a focus on individualized and desired care activities to meet known needs for self-care or dependent care (Orem, 2001, p.250).
MODEL KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN DOROTHEA OREM
A. Riwayat Dorothea Orem
Dorothea Orem lahir di Baltimore, Maryland pada tahun 1914. Beliau wafat pada tanggal 22 Juli 2007 di Skidaway. Selama hidupnya, beliau pernah mengikuti pendidikan Diploma (1903), kemudian meanjutkan pendidikannya di Providence School of Nursing di Washington DC dan mendapatkan gelar B.S.NE, kemudian melanjutkan pendidikannya lagi di Catholic University of America di Washington DC dan mendapatkan gelar M.S.NE.

B. Model Konsep Keperawatan Orem
Model Keperawatan menurut Orem dikenal dengan Model Self Care. Model Self Care ini memberi pengertian bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan sakit. Model keperawatan ini berkembang sejak tahun 1959-2001.
Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai yang ada dalam keperawatan diantaranya dalam pelaksanaan berdasarkan tindakan atas keampuan. Self Care didasarkan atas kesengajaan serta dalam pengambilan keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan.
Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi dalam konsep kebutuhan dasar yang terdiri dari:
a. Air (udara): pemelihraan dalam pengambian udara.
b. Water (air): pemeliaraan pengambilan air
c. Food (makanan): pemeliharaan dalam mengkonsumsi makanan
d. Elimination (eliminasi): pemeliharaan kebutuhan proses eliminasi
e. Rest and Activity (Istirahat dan kegiatan): keseimbangan antara istirahat dan aktivitas.
f. Solitude and Social Interaction ( kesendirian dan interaksi sosial): pemeliharaan dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial.
g. Hazard Prevention (pencegahan risiko): kebutuhan akan pencegahan risiko pada kehidupan manusia dalam keadaan sehat .
h. Promotion of Normality

C. Teori Keperawatan Orem
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik keperwatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, di antaranya:
a. Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
Teori Self Care meliputi:
a) Self Care: merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.
b) Self Care Agency: merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
c) Theurapetic Self Care Demand: tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
d) Self Care Requisites: kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care Reuisites terdiri dari beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care Requisites (kebutuhan universal manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan indvidu) dan Health Deviation Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari kondisi pasien).
b. Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara terus menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
c. Teori Sistem Keperawatan
Teori Siste Keperawatan merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawat atau pasien sendiri. Dalam pandangan sistem ini, Orem memberikan identifikasi dalam sistem pelayanan keperawatan diantaranya:
a) Sistem Bantuan Secara Penuh (Wholly Copensatory System ). Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara penuh pada pasien dikarenakan ketidamampuan pasien dalam memenuhi tindakan perawatan secara mandiri yang memerlukan bantuan dalam pergerakan, pngontrolan, dan ambulansi serta adanya manipulasi gerakan. Contoh: pemberian bantuan pada pasien koma.
b) Sistem Bntuan Sebagian (Partially Compensatory System). Merupakan siste dalam pemberian perawatan diri sendiri secara sebagian saja dan ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal. Contoh: perawatan pada pasien post operasi abdomen di mana pasien tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan luka.
c) Sistem Supportif dan Edukatif. Merupakan sistem bantuan yang diberikan pada pasien yang membutuhkan dukungan pendidikan dengan harapan pasien mampu memerlukan perawatan secara mandiri. Sistem ini dilakukan agara pasien mampu melakukan tindakan keperawatan setelah dilakukan pembelajaran. Contoh: pemberian sistem ini dapat dilakukan pada pasien yang memelukan informasi pada pengaturan kelahiran.

Metode Bantuan
Perawat membantu klien dengan menggunakan sistem dan melalui lima metode bantuan yang meliputi
a. Acting atau melakukan sesuatu untuk klien
b. Mengajarkan klien
c. Mengarahkan klien
d. Mensupport klien
e. Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang.

2. MODEL KONSEP FLORENCE NIGHTINGALE
MODEL KONSEP
Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkungan sosial.
a. Lingkungan fisik (physical enviroment)
Merupakan lingkungan dasar/alami yan gberhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan.
Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posiis pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.
b. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment)
F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsanag semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya.
Komunikasi dengan p[asien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya.
Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungna dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.
c. Lingkungan sosial (social environment)
Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.
Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungna individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.
HUBUNGAN TEORI FLORENCE NIGHTINGALE DENGAN BEBERAPA KONSEP
a. Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan :
a) Individu / manusia
Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi penyakit.
b) Keperawatan
Berrtujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat melakukan kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan.
c) Sehat / sakit
Fokus pada perbaikan untuk sehat.
d) Masyarakaat / lingkungan
Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu, fokus pada ventilasi, suhuu, bau, suara dan cahaya.
b. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan
a) Pengkajian / pengumpulan data
Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan (lingkungan fisik, psikhis dan sosial).
b) Analisa data
Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik, sosial dan mental yang berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan keseluruhan.
c) Masalah
Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya :
1. Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan
2. Ventilasi
3. Pembuangan sampah
4. Pencemaran lingkungan
5. Komunikasi sosial, dll
d) Diagnosa keperawatan
Berrbagai maslah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain :
1. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan.
2. Penyesuaian terhadap lingkungan.
3. Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan.
4. Inplementasi
Upaya dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan, perrtumbuhan dan perkembangan individu.
5. Evaluasi
Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu.

HUBUNGAN TEORI FLORENCEN NIGHTINGALE DENGAN TEORI-TEORI LAIN :
a. Teori adaptasi
Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya. Kekuatan dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada dirinya sendiri. Berrhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan tinjauan lingkungan yang dijelaskan Florence N.
Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari lingkungannya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau mal adaptif.
b. Teori kebutuhan
Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N, sebagai conoth kebuuthan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar, ventilasi dan kebutuhanlingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan air yang bersih.
Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan hidupnya.
c. Teori stress
Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan, yang harus ditangani. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir. Stress dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam mencapai keinginan atau kebutuhan.
Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individu tidak dapat mengatasi. Florence N, menekankan penempatan pasien dalamlingkungan yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor, misalnya tempat yang gaduh, membangunkan pasien dengan tiba-tiba, ,semuanya itu dipandang sebagai suatu stressor yang negatif. Jumlah dan lamanya stressor juga mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan koping individu.







3. MODEL KONSEPTUAL CALISTA ROY
a. Riwayat Calista Roy
Suster Calista Roy adalah seorang suster dari Saint Joseph of Carondelet. Roy dilahirkan pada tanggal 14 oktober 1939 di Los Angeles California. Roy menerima Bachelor of Art Nursing pada tahun 1963 dari Mount Saint Marys College dan Magister Saint in Pediatric Nursing pada tahun 1966 di University of California Los Angeles.
Roy memulai pekerjaa dengan teori adaptasi keperawatan pada tahun 1964 ketika dia lulus dari University of California Los Angeles. Dalam Sebuah seminar dengan Dorrothy E. Johnson, Roy tertantang untuk mengembangkan sebuah model konsep keperawatan. Konsep adaptasi mempengaruhi Roy dalam kerangka konsepnya yang sesuai dengan keperawatan. Dimulai dengan pendekatan teori sistem. Roy menambahkan kerja adaptasi dari Helsen (1964) seorang ahli fisiologis – psikologis. Untuk memulai membangun pengertian konsepnya. Helsen mengartikan respon adaptif sebagai fungsi dari datangnya stimulus sampai tercapainya derajat adaptasi yang di butuhkan individu. Derajat adaptasi dibentuk oleh dorongan tiga jenis stimulus yaitu : focal stimuli, konsektual stimuli dan residual stimuli.
Roy mengkombinasikan teori adaptasi Helson dengan definisi dan pandangan terhadap manusia sebagai sistem yang adaptif. Selain konsep-konsep tersebut, Roy juga mengadaptasi nilai “ Humanisme” dalam model konseptualnya berasal dari konsep A.H. Maslow untuk menggali keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy humanisme dalam keperawatan adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia dapat meningkatkan derajat kesehatan.
Sebagai model yang berkembang, Roy menggambarkan kerja dari ahli-ahli lain dari ahli-ahli lain di area adaptasi seperti Dohrenwend (1961), Lazarus (1966), Mechanic ( 1970) dan Selye (1978). Setelah beberapa tahun, model ini berkembang menjadi sebagai suatu kerangka kerja pendidikan keperawatan, praktek keperawatan dan penelitian. Tahun 1970, model adaptasi keperawatan diimplementasikan sebagai dasar kurikulum sarjana muda keperawatan di Mount Saint Mary’s College. Sejak saat it lebih dari 1500 staf pengajar dan mahasiswa-mahasiswa terbantu untuk mengklarifikasi, menyaring, dan memperluas model. Penggunaan model praktek juga memegang peranan penting untuk klarifikasi lebih lanjut dan penyaringan model.
Sebuah studi penelitian pada tahun 1971 dan survey penelitian pada tahun 1976-1977 menunjukkan beberapa penegasan sementara dari model adaptasi. Perkembangan model adaptasi keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang Roy dan profesionalismenya. Secara filosofi Roy mempercayai kemampuan bawaan, tujuan,, dan nilai kemanusiaan, pengalaman klinisnya telah membantu perkembangan kepercayaannya itu dalam keselarasan dari tubuh manausia dan spirit. Keyakinan filosofi Roy lebih jelas dalam kerjanya yang baru pada model adaptasi keperawatan.

b. Definisi Dan Konsep Mayor
Konsep Mayor yang membangun kerangka konseptual model adaptasi roy adalah:
a. Sistem adalah kesatuan dari beberapa unit yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh dengan ditandai adanya input, control, proses, output, dan umpan balik.
b. Derajat adaptasi adalah perubahan tetap sebagai hasil dari stimulus fokal, konstektual dan residual dengan standar individual, sehingga manusia dapat berespon adaptif sendiri.
c. Problem adaptasi adalah kejadian atau situasi yang tidak adekuat terhadap penurunan atau peningkatan kebutuhan.
d. Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara langsung mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal adalah presipitasi perubahan tingkah laku.
e. Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang disebabkan atau dirangsang oleh stimulus fokal.
f. Stimulus residual adalah seluruh factor yang mungkin memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat di validasi.
g. Regulator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon otomatik melalui neural, cemikal, dan proses endokrin.
h. Kognator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon melalui proses yang kompleks dari persepsi informasi, mengambil, keputusan dan belajar.
i. Model efektor adaptif adalah kognator yaitu ; Fisiologikal, fungsi pean, interdependensi dan konsep diri.
j. Respon adaptif adalah respon yang meningkatkan intergritas manusia dalam mencapai tujuan manusia untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan reproduksi.
k. Fisiologis adalah kebutuhan fisiologis termasuk kebutuhan dasar dan bagaimana proses adaptasi dilakukan untuk pengaturan cairan dan elektrolit, aktivits dan istirahat, eliminasi, nutrisi, sirkulasi dan pengaturan terhadap suhu, sensasi, dan proses endokrin.
l. Konsep diri adalah seluruh keyakinan dan perasaan yang dianut individu dalam satu waktu berbentuk : persepsi, partisipasi, terhadap reaksi orang lain dan tingkah laku langsung. Termasuk pandangan terhadap fisiknya (body image dan sensasi diri) Kepribadian yang menghasilkan konsistensi diri, ideal diri, atau harapan diri, moral dan etika pribadi.
m. Penampilan peran adalah penampilan fungsi peran yang berhubungan dengan tugasnya di lingkungan social.
n. Interdependensi adalah hubungan individu dengan orang lain yang penting dan sebagai support sistem. Di dalam model ini termasuk bagaimana cara memelihara integritas fisik dengan pemeliharaan dan pengaruh belajar.

c. Model Konseptual Adaptasi Roy
Empat elemen penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan adalah :
a. Manusia
b. Lingkungan
c. Kesehatan
d. keperawatan.
Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elememn penting pada konsep adaptasi.
a Manusia
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistic sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, control, output, dan proses umpan balik. Proses control adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di definisikan sabagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi.
Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, Jadi manusia dilihat sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem manusia juga dapat digambarkan dengan istilah input, proses control dan umpan balik serta output.
Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variable satandar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasanya dilakukan.
Proses control manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.
Manusia
a) Manusia didefinisikan sebagai penerima asuhan keperawatan. Manusia sebagai sistem hidup yang berada dalam interaksi yang konstan dengan lingkungan ditandai oleh perubahan-perubahan internal maupun eksternal
b) Perubahan-perubahan tersebut mengharuskan manusia mempertahankan integritasnya, yaitu adaptasi terus menerus
c) Roy mengidentifikasikan unit sebagai stimulus. Stimulus adalah unit dari
d) informasi materi atau energi dari lingkungan atau dirinya sebagai respon.
e) seiring dengan stimulus, tingkat adaptasi adalah jangkauan stimulus manusia yang dapat mengadaptasi responnya dengan usaha yang wajar.
f) Tingkat adaptasi dan sistem manusia dipengaruhi oleh pertumbuhan individu dan pemakaian dari mekanisme koping
g) Roy mengkategorikan hasil sistem sebagai respon adaptif dan inefektif
h) Respon adaptif adalah semua yang mengacu pada integritas manusia yaitu semua tingkah laku yang tampak ketika manusia dapat mengerti tentang tujuan hidup, tumbuh, produksi dan kekuasaan
i) Respon inefektif tidak mendukung tujuan tersebut
j) Roy menggunakan istilah mekanisme koping untuk menjelaskan proses pengendalian manusia sebagai sistem adaptasi

Diagram respon adaptasi
PROSES
a. Koping
b. Mekanisme regulator dan kognator


INPUT
a. Stimulus
b. Tingkat adaptasi


OUTPUT
a. Adaptasi
b. Respon inefekti


Efektor dijelaskan oleh Roy sebagai berikut :
a. Model adaptasi fisiologi
Model adaptasi fisiologi terdiri dari :
a) Oksigenasi
b) Nutrisi
c) Eliminasi
d) Aktifitas dan istirahat
e) Sensori
f) Cairan dan elektrolit
g) Integritas kulit
h) Fungsi saraf
i) Fungsi endokrin
b. Konsep diri
Merujuk pada nilai, kepercayaan, emosi, cita-cita serta perhatian yang diberikan untuk mengatasi keadaan fisik tersebut
Fungsi peran
Menggambarkan hubungan interaksi perorangan dengan orang lain yang tercermin pada peran pertama, kedua dan seterusnya.
c. Model ketergantungan
Mengidentifikasi nilai manusia, cinta dan keseriusan. Proses ini terjadi dalam hubungan manusia dengan individu dan kelompok.
b LINGKUNGAN
Roy mengidentifikasikan keadaan lingkungan secara khusus yaitu semua keadaan, kondisi dan pengaruh dari sekeliling dan perasaan lingkungan serta tingkah laku individu dan kelompok
c KESEHATAN
Roy mengidentifikasikan sebagai status dan proses keadaan yang digabungkan dari manusia yang diekspresikan sebagai kemampuan untuk menentukan tujuan, hidup, berkembang, tumbuh, memproduksi dan memimpin
d KEPERAWATAN
Roy mengidentifikasikan tujuan dari keperawatan sebagai peningkatan dari proses adaptasi. Tingkat adaptasi ditentukan oleh besarnya rangsang baik fokal, konstektual maupun residual
Aktivitas perawatan direncanakan model sebagai peningkatan respon adaptasi atas situasi sehat atau sakit. Sebagai batasan adalah pendekatan yang merupakan aksi perawat untuk memanipulasi stimuli fokal, konstektual dan residual yang menyimpang pada manusia. Rangsang fokal dapat diubah dan perawat dapat meningkatkan respon adaptasi dengan memanipulasi rangsangan konstektual dan residual. Perawat dapat mengantisipasi kemungkinan respon sekunder yang tidak efektif pada rangsang yang sama pada keadaan tertentu.
Perawat juga dapat menyiapkan manusia untuk diantisipasi dengan memperkuat regulator kognator dan mekanisme koping.

4. MODEL KONSEP PEPLAU
a. Riwayat Peplau
Hildegard E. Peplau, PhD, RN, FAAN, yang dikenal sebagai “jiwa ibu menyusui,” meninggal di usia 89 tahun pada tanggal 17 Maret 1999. The only nurse to serve the ANA as executive director and later as president, she served two terms on the Board of the International Council of Nurses (ICN). Satu-satunya perawat untuk melayani ANA sebagai direktur eksekutif dan kemudian sebagai presiden, ia menjabat dua istilah di Dewan International Council of Nurses (ICN). In 1997, she received nursing’s highest honor, the Christiane Reimann Prize, at the ICN Quadrennial Congress. Pada tahun 1997, ia menerima kehormatan tertinggi keperawatan, yang Christiane Reimann Prize, pada Kongres ICN yg berlangsung empat tahun. In 1996, the American Academy of Nursing honored Peplau as a “Living Legend,” and, in 1998, the ANA inducted her into its Hall of Fame. (Extract from the “Peplau leaves legacy of achievement” article below – Nursing World May 1999) Pada tahun 1996, American Academy of Nursing Peplau dihormati sebagai “Legenda Hidup”, dan, pada tahun 1998, ANA dilantik-nya ke dalam Hall of Fame. (Kutipan dari “warisan daun Peplau prestasi” artikel di bawah ini – Keperawatan Dunia Mei 1999 )
Hildegard Peplau’s fifty-year career in nursing left an indelible stamp on the profession of nursing, and on the lives of the mentally ill in the United States. Hildegard Peplau lima puluh tahun karirnya di panti kiri cap yang tak terhapuskan pada profesi keperawatan, dan pada kehidupan para sakit jiwa di Amerika Serikat. She wore many hats – founder of modern psychiatric nursing, innovative educator, advocate for the mentally ill, proponent of advanced education for nurses, Executive Director and then President of the American Nurses Association, and prolific author. Dia mengenakan banyak topi – pendiri keperawatan jiwa modern, inovatif pendidik, advokat bagi penderita penyakit mental, pendukung pendidikan lanjutan untuk perawat, Direktur Eksekutif dan kemudian Presiden American Nurses Association, dan penulis produktif. Her life was often marked with controversy, which she faced with courage and determination. Hidupnya sering ditandai dengan kontroversi, yang dia dihadapkan dengan keberanian dan tekad.

b. Konsep Peplau
Keperawatan adalah suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia).
Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.Hubungan interpersonal yang merupakan factor utama model keperawatan menurut Peplau mempunyai asumsi terhadap 4 konsep utama yaitu :
a. Manusia : individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal.
b. Masyarakat/lingkungan : budaya dan adapt istiadat merupakan factor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi kehidupan.
c. Kesehatan : didefinisikan sebagai perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan kea rah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.
d. Keperawatan : dipandang sebagai proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal merupakan materina force dan alat edukatif yang baik bagi perawat maupun klien. Pengetahuan diri dalam konteks interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk memahami klien dan mencapai resolusi masalah.

Suatu model dapat diuraikan secara rinci kebutuhan utama/primer :
a. Tujuan asuhan keperawatan : Kepribadian yang berkembang melalui hubungan interpersonal mendidik dalam pemenuhan kebutuhan klien.
b. Klien : System dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman.
c. Peran nurse : Nurse berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai orang asing, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.
d. Sumber kesulitan : Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologik dan biologic individu.
e. Focus intervensi : Ansietas yang disebabkan oleh hubungan interpersonal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian .
4 komponen sentral yaitu proses interpersonal, perawat, pasien dan ansietas.
Cara intervensi Proses interpersonal terdiri dari 4 fase yaitu :
a. Fase orientasi : Lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian askep pada klien.
b. Fase identifikasi : Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan askep yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien.
Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :
a) Pasrtisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat
b) Individu mandiri terpisah dari perawat
c) Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat. dimana
c. Fase Eksplorasi : Memungkinkan suatu situasi pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal
d. Fase resolusi : Secara bertahap klien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kearah realisasi potensi.
Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial.
Perawat mempunyai 6 peran :
a. Sebagai orang yang asing
Berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada klien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada suatu sistem baru
b. Nara sumber
Perawat memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengharap pada area permasalahan yang memerlukan bantuan
c. Pendidik
Mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan serta aktif dalam mengarahkan asuhan
d. Pengasuh pengganti
Membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal
e. Konselor
Meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.

Selasa, 30 Maret 2010

METODE PEMBELAJARAN

TUJUAN INSTRUKTIONAL KHUSUS
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode ceramah dan mendemontrasikan penggunaan metode ceramah dengan tepat dan benar
2. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode tanya jawab dan mendemontrasikan penggunaan metode tanya jawab dengan tepat dan benar
3. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode demontrasi dan mendemontrasikan penggunaan metode demonstrasi dengan tepat dan benar
4. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode pemecahan masalah dan mendemontrasikan penggunaan metode pemecahan masalah dengan tepat dan benar
5. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode diskusi dan mendemontrasikan penggunaan metode diskusi dengan tepat dan benar
6. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode simulasi dan mendemontrasikan penggunaan metode simulasi dengan tepat dan benar

Metode Pembelajaran adalah cara menjelaskan suatu pokok bahasan (tema/pokoh masalah) sebagai bagian dari isi/materi pengajaran dalam upaya mencapai sasaran & tujuan pengajaran
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demontrasi
4. Metode pemecahan masalah
5. Diskusi
6. Simulasi

1. METODE CERAMAH
a. Pengertian
Adalah suatu cara penyajian bahan pengajaran melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh pemberi materi ke penerima materi.
Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pemberi materi dapat menggunakan alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pemberi materi dengan penerima materi ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.
b. Tujuan
a) Menyampaikan informasi
b) Membangkitkan hasrat, minat, motifasi
c) Memperjelas materi penyuluhan
c. Manfaat
a) Jumlah peserta cukup besar
b) Waktu yang tersedia terbatas, sedang materi yang disampaikan cukup banyak
c) Sebagai pengantar atau menyimpulkan materi yang telah dipelajari
d. Kelemahan metode ceramah
a) Peserta pasif : kegiatan penyuluhan berpusat pada pemberi materi sehingga mengurangi daya aktifitas & kreatifitas peserta
b) Mudah menimbulkan salah tafsir : salah paham pada istilah tertentu tanpa mengetahui artinya
c) Melemahkan perhatian dan membosankan peserta apabila ceramah diberikan dalam waktu yang cukup lama
d) Pemberi penyuluhan tidak segera memperoleh umpan balik tentang penguasaan materi yang disampaikan
e. Langkah-langkah penggunaan
Langkah-langkah penggunaan metode ceramah bervariasi disesuaikan dengan metode-metode yang dipakai sebagai variasi misalnya metode Tanya jawab & diskusi sebagai variasi
a) Persiapan
1. Merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK)
2. Menyusun urutan penyajian materi untuk mencapai tujuan khusus yang sudah ditetapkan
3. Merumuskan materi ceramah secara garis besar
4. Bila materi ceramah terlalu luas dapat dibagi beberapa penggalan
5. Disarankan materi ceramah diperbanyak untuk dimiliki tiap peserta
b) Pelaksanaan
1. Menjelaskan kepada peserta tujuan instruksional khusus (TIK) yang ingin dicapai sesudah pembelajaran berakhir
2. Menjelaskan kepada peserta pelaksanaan metode ceramah bervariasi :ceramah yang disertai Tanya jawab, diskusi kelompok kecil dan ditutup dengan laporan kelas
3. Membagikan materi ceramah kepada peserta
4. Menyajikan materi ceramah
5. Tanya jawab & diskusi
6. Diskusi kelompok berakhir

2. METODE TANYA JAWAB
a. Pengertian
Suatu cara untuk menyajikan bahan materi dalam bentuk pertanyaan dari pemberi materi yang harus dijawab oleh peserta baik secara lisan ataupun tulisan.
Pertanyaan yang di ajukan mengenai isi materi yang sedang diberikan atau pertanyaan yang lebih luas, asal berkaitan dengan materi atau pengalaman yang dihayati.melaui Tanya jawab akan memperluas dan memperdalam materi tersebut.
b. Tujuan
a) Mengetahui penguasaan bahan materi melalui ingatan & pengungkapan perasaan serta sikap peserta tentang fakta yang dipelajari, didengar atau dibaca.
b) Mengetahui jalan berfikir peserta secara sistematis dan logis dalam memecahkan masalah (cara berfikir peserta tidak meloncat-loncat dalam menangkap dan memecahkan suatu masalah)
c) Memberikan tekanan perhatian pada bagian-bagian materi yang dipandang penting serta mampu menyimpulkan & mengikutsertakan materi sehingga mencapai perumusan yang baik dan tepat.
d) Memperkuat lagi kaitan antara suatu pertanyaan dengan jawabanya sehingga dapat membantu tumbuhnya perhatian peserta pada materi dan mengembangkan kemampuannya untuk mengembangkan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya.
e) Membiasakan peserta mengenal bentuk & jenis pertanyaan serta jawabannya yang benar dan tepat.
c. Manfaat
a) Pertanyaan dapat membangkitkan minat dan motifasi peserta, serta mampu menghubungkan pelajaran lama dengan pelajaran baru
b) Pertanyaan ingatan yang meminta jawaban yang bersifat mengungkapkan kembali dapat memperkuat ingatan antara pertanyaan dan jawaban
c) Pertanyaan pikiran yang meminta jawaban yang harus difikirkan, menafsirkan, menganalisis dan menarik kesimpulan dapat mengembangkan cara-cara berfikir logis & sistematis.
d) Pertanyaan dapat mengurangi proses lupa karena jawaban yang diperoleh atau yang dikemukakan diperoleh dalam suasana yang serius dan pemusatan perhatian terhadap jawaban. Apabila jawaban dibenarkan oleh pemberi materi, maka rasa gembira tersebut akan memperkuat jawaban itu tersimpan dalam ingatan peserta.
e) Jawaban yang salah dapat segera dikoreksi
f) Pertanyaan akan merangsang peserta berfikir dan memusatkan perhatian pada satu pokok perhatian
g) Pertanyaan dapat membangkitkan hasrat melakukan penyelidikan yang mengarahkan siswa berfikir secara ilmiah
h) Pertanyaan fakta atau masalah dapat mengarahkan belajar seperti yang dituju oleh suatu materi yang dapat membantu peserta mengetahui bagian-bagian yang perlu diketahui dan di ingat.
i) Pertanyaan dapat digunakan untuk tujuan latihan dan mengulang.
j) Peserta menjawab pertanyaan dengan benar, baik isi jawaban maupun susunan bahasa yang dipergunakan untuk mengekspresikan perasaan dan ide-ide atau pikirannya sehingga dapat didengar, ditelaah dan dinilai oleh pemberi materi.
k) Peserta juga diajak berani bertanya untuk kepentingan belajar mengajar dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu peserta belajar mengemukakan pertanyaan yang layak da menghargai pertanyaan orang lain.
l) Pertanyaan-pertanyaan oleh pemberi materi atau peserta dapat menimbulkan suasana ruangan hidup dan gembira.
m) Peserta memperoleh kesempatan ikut berpartisipasi dalam proses kegiatan belajar mengajar.
n) Dari jawaban-jawaban yang diperoleh, dapat merupakan umpan balik bagi pemberi materi mengenai pengetahuan, sikap dan sifat-sifat pesertaserta hasil proses belajar.
d. Langkah-langkah penggunaan
a) Persiapan
1. Menentukan topic
2. Merumuskan TIK
3. Menyusun pertanyaan-pertanyaan secara tepat sesuai dengan TIK
b) Pelaksanaan
1. Menjelaskan kepada peserta tujuan instruksional khusus
2. Mengkomunikasikan penggunaaan metode Tanya jawab (peserta tidak hanya bertanya tetapi juga menjawab pertanyaan dari pemberi materi & peserta lain )
3. Pemberi materi memberikan permasalahan sebagai bahan apersepsi
4. Pemberi materi mengajukan pertanyaan keseluruh peserta
5. Pemberi materi waktu yang cukup untuk memikirkan jawabanya, sehingga dapat merumuskan secara sistematis.
6. Tanya jawab harus berlangsung dalam suasana tenang dan bukan dalam suasana tegang dan penuh persaingan yang tidak sehat diantara para peserta.
7. Pertanyaan dapat ditujukan kepada seorang peserta atau seluruh peserta, pemberi materi perlu menggugah peserta yang pemalu atau pendiam, sedangkan peserta yang pandai dan berani menjawab perlu dikendalikan untuk memberi kesempatan pada yang lain.
8. Pemberi materi mengusahakan agar setiap pertanyaan hanya berisi satu masalah saja.
9. Pertanyaan ada beberapa macam yaitu pertanyaan pikiran, pertanyaan mengungkapkan kembali pengetahuan yang dikuasai dan pertanyaan yang meminta pendapat, perasaan sikap,serta pertanyaan yang hanya mengungkapkan fakta-fakta saja.
e. Beberapa cara mengajukan pertanyaan
1. Gunakan variasi pertanyaan yang terbuka dan tertutup
2. Gunakan bahasa yang baik dan benar serta pilihlah kata-kata secara cermat.
3. Dengarkan baik-baik jawaban peserta
4. Sikap mengatakan dengan kata-kata lain pertanyaan-pertanyaan peserta dan mengarahkannya kembali
5. Jaga pertanyaan supaya pendek dan sederhana
6. Mulailah dari apa yang sudah diketahui peserta
7. Akui bila anda sendiri tidak tahu, tetapi kemungkinan mendapatkan jawaban
8. Angkat tangan dari seorang, tiap kali untuk mendapatkan jawaban
9. Berikan kesempatan tiap orang untuk menjawab pada waktu tertentu.
10. Waspada terhadap pengalihan perhatian atau jawaban yang tolol dan usahakan untuk meredamnya.
11. Gunakan kata-kata yang sederhana dan mudah mengerti
12. Jagalah agar pertanyaan itu singkat

3. METODE DEMONTRASI
a. Pengertian
Adalah cara penyajian materi melalui peragaan. Kegiatan peragaan dapat berupa meragakan cara kerja, perilaku tertentu dll.
b. Tujuan
a) Untuk memperjelas cara kerja sesuatu atau perilaku tertentu
b) Untuk memperjelas konsep/pengertian sesuatu
c. Manfaat
a) Peserta memperoleh kejelasan mengenai cara kerja sesuatu (mengembangkan aspek motorik)
b) Peserta memperoleh kejelasan contoh prilaku tertentu (menanamkan aspek afektif)
c) Peserta memperoleh kejelasan mengenai pengertian atau konsep
d. Langkah penggunaan
a) Persiapan
1. Merumuskan TIK
2. Menyiapkan alat yang akan diperagakan
3. Menyiapkan/merancang pola interaksi dalam kegiatan belajar.
b) Pelaksanaan
1. Mengemukakan materi secara singkat
2. Menjelaskan proses dan langkah-langkah penggunaan metode ini
3. Menjelaskan prilaku tertentu yang akan diperagakan
4. Peserta melakukan kegiatan peragaan
5. Pemberi materi dan peserta mengevaluasi pelaksanaan kegiatan peragaan
6. Pengambilan kesimpulan
Catatan : bila mana peragaan mengenai cara kerja sesuatu alat, maka perlu disiapkan alat yang dimaksut.

4. METODE PROBLEM SOLVING (PEMECAHAN MASALAH)
a. Pengertian
Suatu metode atau cara penyajian dengan cara peserta dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan atau diselesaikan, baik secara individual maupun kelompok.
Pada metode ini titik berat diletakkan pada pemecahan masalah secara rasional, logis, benar & tepat, tekanannya pada proses pemecahan masalah dengan penentuan alternative yang berguna saja.
Metode ini baik untuk melatih kesanggupan peserta dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, mengingat tidak ada manusia yang dapat terlepas dari kesulitan atau masalah yang harus diselesaikan secara rasional.
b. Tujuan
a) Mencari jalan keluar dalam menghadapi masalah secara rasional
b) Dalam memecahkan masalah dapat dilakukan secara individual maupun secara bersama-sama.
c) Mencari pemecahan masalah untuk meningkatkan kepercayaan pada diri sendiri
c. Manfaat
a) Mengembangkan kemampuan peserta dalam memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara obyektif dan rasional.
b) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis dan analitis.
c) Mengembangkan sikap toleransi terhadap orang lain serta sikap hati-hati dalam mengemukakan pendapat.
d) Memberikan pengalaman proses dalam menarik kesimpulan bagi peserta.
d. Langkah penggunaan
a) Persiapan
1. Menentukan permasalahan sebagai topic.topik ini dapat ditentukan dengan cara menyajikan masalah yang jelas, yang menimbulkan pertanyaan ingin tahu sehingga mendorong untuk pemecahannya.
2. Merumuskan TIK
3. Merumuskan langkah-langkah pemecahan masalah
4. Menentukan criteria pemilihan pemecahan masalah yang terbaik
b) Pelaksanaan
1. Menjelaskan TIK
2. Menjelaskan pemecahan masalah
3. Merumuskan permasalahan
4. Menelaah permasalahan
5. Membuat dan merumuskan hipotesa
6. Menghimpun, mengelompokkan data sebagai bahan hipotesis
7. Membuktikan hipotesis
8. Menentukan pilihan pemecahan dan keputusan

5. METODE DISKUSI
a. Pengertian
Suatu penyajian dengan cara peserta membahas, dengan bertukar pendapat mengenai topic atau masalah tertentu untuk memperoleh suatu pengertian bersama yang lebih jelas & teliti tentang topic/sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama
b. Tujuan
Agar peserta aktif dalam kegiatan penyuluhan dengan cara membahas dan memecahkan masalah tertentu
c. Manfaat
1. Menumbuhkan dan membina sikap serta perbuatan peserta yang demokratis
2. Menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan cara berfikir kritis,analitis dan logis.
3. Menumpuk rasa kerjasama, sikap toleransi dan rasa social
4. Membina kemampuan untuk mengemukakan pendapat dengan bahasa yang baik dan benar
d. Langkah penggunaan
a) Persiapan
1. Menentukan topic yang akan didiskusikan
2. Merumuskan TIK
3. Merumuskan masalah yang akan didiskusikan
4. Menentukan waktu dan pengaturan kelompok diskusi
b) Pelaksanaan
1. Membuat struktur kelompok (pimpinan, sekertaris, anggota)
2. Menjelaskan TIK
3. Membagi tugas dan memberikan pengarahan diskusi
4. Memberikan rangsangan dan membantu peserta untuk berpartisipasi
5. Mencatat ide dan saran-saran penting
6. Kelompok-kelompok membuat hasil diskusinya dan disampaikan dalam diskusi antar kelompok
7. Hasil diskusi antar kelompok dilaporkan kepada fasilitaor atau pimpinan diskusi dalam bentuk tertulis

6. METODE SIMULASI
a. Pengertian
Simulasi berasal dari kata simulate artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah.simulasi sebagai metode penyajian adalah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakekat suatu prinsip atau ketrampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan (tidak sesungguhnya).
Dengan simulasi memungkinkan peserta mampu menghadapi kenyataan yang sesungguhnya atau mempunyai kecakapan bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi sebenarnya.
b. Tujuan
a) Melatih ketrampilan tertentu, baik yang bersifat keahlian (profesional) maupun ketrampilan dalam hidup sehari-hari.
b) Memperoleh pemahaman tentang suatu pengertian (konsep) atau prinsip.
c) Latihan memecahkan masalah
c. Manfaat
a) Meningkatkan aktifitas belajar peserta dengan melibatkan diri dalam mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang sebenarnya
b) Memberikan motifasi untuk bekerjasama dalam kelompok
c) Menimbulkan dan memupuk daya imajinasi
d) Melatih peserta untuk memahami dan menghargai pendapat, peran orang lain.
Agar penggunaan metode simulasi mencapai tujuan dan manfaat yang diinginkan, perlu diperhatikan hal-hal sbb:
a) Tiap peserta atau kelompok peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan simulasi
b) Tiap peserta terlibat langsung dalam peranannya masing-masing
c) Simulasi dimaksutkan untuk latihan ketrampilan agar dapat menghadapi kenyataan lebih baik
d) Disiapkan petunjuk simulasi dapat secara terperinci atau garis besar
e) Dalam simulasi diusahakan dapat digambarkan secara lengkap tentang situasi,, proses yang diperkirakan terjadi dalam kenyataan sesungguhnya
d. Langkah penggunaan
a) Persiapan
1. Menentukan topic
2. Merumuskan TIK
3. Merumuskan petunjuk simulasi
b) Pelaksanaan
1. Menentukan topic & tujuan simulasi, akan lebih baik bila diadakan bersama peserta
2. Menguraikan secara garis besar simulasi yang akan di simulasikan
3. Menjelaskan peranan yang akan di simulasikan dan proses simulasi
4. Pemilihan para pelaku atau pemeran
5. Memberi kesempatan bertanya
6. Pelaksanaan simulasi
7. Evaluasi sesuai dengan tujuan dan isi pokok bahasan
8. Latihan ulang


TUHAN AKAN MENINGGIKAN BEBERAPA DERAJAT BAGI ORANG YANG BERILMU
Semoga Bermanfaat

MEDIA PEMBELAJARAN

TUJUAN INSTRUKTIONAL KHUSUS
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode ceramah dan mendemontrasikan penggunaan metode ceramah dengan tepat dan benar
2. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode tanya jawab dan mendemontrasikan penggunaan metode tanya jawab dengan tepat dan benar
3. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode demontrasi dan mendemontrasikan penggunaan metode demonstrasi dengan tepat dan benar
4. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode pemecahan masalah dan mendemontrasikan penggunaan metode pemecahan masalah dengan tepat dan benar
5. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode diskusi dan mendemontrasikan penggunaan metode diskusi dengan tepat dan benar
6. Menjelaskan pengertian, tujuan , manfaat metode simulasi dan mendemontrasikan penggunaan metode simulasi dengan tepat dan benar


Penggunaan media Ialah pengunaan dan pemanfaatan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

Tujuan :
1. Untuk mempermudah pemberi penyuluhan menyampaikan materi
2. Untuk mempermudah peserta dalam memahami materi dan meningkatkan motifasi peserta untuk belajar

Pemilihan media yang baik
1. Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran
2. Dukungan terhadap isi materi pelajaran
3. Kemudahan memperoleh media
4. Keterampilan pemberi penyuluhan
5. Sesuai dengan taraf berfikir peserta

Prinsip yang perlu diperhatikan dalam menggunakan media
1. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
2. Hendaknya menguasai/mengenal dengan baik media yang akan digunakan
3. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif, tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi pemberi materi.
4. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan, karena tergantung situasi kondisi dan ada keuntungan kerugian dari masing-masing media.

Jenis Media berupa:
1. Alat audio (alat dengar): radio dan tape rekorder
2. Alat visual (alat pandang) : gambar, kartu kata/flash cart, buku teks, foto, gambar atau lukisan, cetakan.
3. Alat audiovisual (alat dengar pandang) : televisi & computer.

1. Media audio
Media Audio (media dengar) adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran. Dengan kata lain, media jenis ini hanya melibatkan indera dengar dan memanipulasi unsur bunyi atau suara semata (Setyosari dan Sihkabuden, 2005: 148; Yudhi Munadi, 2008)
Jenis-jenis Media Audio:
1. Radio
Radio adalah satu alat komunikasi elekro magnetic untuk mengirim dan menerima pesan suara dengan menggunakan sistem gelombang suara melalui udara.

Kelebihan dari penggunaan radio
a. berita langsung dan up to date
b. mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan memperkaya pengalaman
c. realistik dan otentik
d. mempengaruhi emosi dan mengembangkan imajinasi
e. murah dan bersifat mobil.

keterbatasan penggunaannya adalah:
a. merupakan komunikasi satu arah
b. menuntut pemusatan perhatian
c. terikat oleh jadwal pemancar dan jadwal siaran
d. tidak dapat diulang dengar
e. hanya dapat didegar saja ( Setyosari dan Sihkabuden 2005).

2. Audio Cassete Tape Recorder (ATR)
Dibandingkan dengan media dengar yang lain, maka media kaset memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a. Memiliki fungsi ganda yang efektif.
Alat ini dapat digunakan untuk merekam, menampilkan kembali (play back) dan menghapusnya. Semuanya dapat dilakukan melalui satu alat tersebut.
b. Cepat dan praktis
Play-Back dapat segera dilakukan begitu selesai rekaman pada mesin yang sama. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh piringan hitam.
c. Dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume.
Bahkan dapat dihentikan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya diselingi diskusi, tanya jawab dan kemudian mendengarkan kaset kembali.
d. Dapat digunakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan atau dengan kata lain jadual dapat diatur sendiri oleh pemakai.
e. Mudah diperbanyak/direproduksi
Untuk memperbanyak rekaman kaset yang sama kualitasnya dengan kaset aslinya tidak memerlukan waktu yang lama, bahkan lebih cepat dari pada waktu yang digunakan untuk merekam.
f. Mudah menggunakannya
Karena tidak memerlukan keterampilan teknis yang rumit, maka murid maupun guru, di sekolah maupun di rumah dapat membuat rekaman sendiri, cukup dengan sedikit mempelajari petunjuk-petunjuk praktis.


Keterbatasan media kaset suara
Beberapa keterbatasan media kaset suara antara lain ialah:
a. Rekaman hanya memberikan “konsumsi suara” saja. Dewasa ini telah ada alat perekam suara dan rupa sekaligus pada suatu mesin yang disebut Video Cassete Recorder. (2) Komunikasi hanya satu arah
Pendengar tidak dapat berdialog langsung dengan suara yang dikeluarkan oleh pita rekaman.
b. Pita kaset suara memiliki kekuatan terbatas.
Sebagai alat penyimpan data suara, rekaman kaset memiliki umur tertentu.
c. Tidak memiliki jangkauan yang luas
Sejauh mana jangkauan dari media kaset suara tergantung dari berapa banyak kaset tersebut direproduksi dan digunakan oleh para pemakainya.

2. Media visual
Ialah semua alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran yang bisa dinikmati oleh panca indra mata.

Fungsi media fisual :
1. Fungsi atensi : menarik dan mengarahkan perhatian peserta untuk berkonsentrasi kepada isi materi yang berkaitan dengan materi pembelajaran
2. Fungsi afektif : tingkat kenikmatan peserta ketika belajar atau membaca teks yang bergambar dapat menggugah emosi atau sikap peserta.
3. Fungsi kognitif : lambang visual/gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan terkandung dalam gambar
4. Fungsi kompensatoris : membantu peserta yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali

Penggunaan media visual
1. Gambar dan tulisan harus jelas dan terang sehingga dapat dibaca oleh peserta
2. Tidak boleh terlalu ramai sehingga informasi yang dimaksutkan dapat tertangkap jelas oleh peserta
3. Gunakan yang asli (master) untuk membuat tiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kwalitas gambar

Bentuk media visual
1. Gambar chart/chart tunggal
Ialah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi yang dituangkan dalam bentuk gambar dan tulisan,angka, table, diagram, grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi yang disampaikan oleh pemberi materi di depan peserta.
2. Flipchart/chart berseri
Flipchart sama dengan chart perbedaannya pada Flipchart serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen atau kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu, informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh peserta, sehingga sebelum lembar pertama jelas baru di buka lembaran berikunya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya
Ciri khas dari Flipchart : lembaran-lembaran chart adalah berurutan dimana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh.

3. Media audiovisual
Televisi
Perkataan televisi berarti menyalurkan gambar melalui jarak jauh. Walaupun istilah televisi mengandung arti gambar yang disalurkan, namun di dalam istilah ini sudah terkandung pengertian gambar dan suara. Karena suara yang dikirimkan melalui jarak jauh sudah dikenal jauh sebelum lahirnya televisi, maka istilah televisi sendiri secara langsung diartikan orang “tele audio vision”.

Manfaat TV sebagai media pendidikan
Siaran-siaran TV pada umumnya selalu mengandung dua tujuan yaitu untuk pendidikan dan untuk hiburan. Tujuan siaran pendidikan ialah untuk mengerjakan sesuatu atau menginformasi-kan sesuatu yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap tertentu pada pirsawan. Sedangkan tujuan siaran hiburan ialah untuk menggembirakan hati para penonton atau memberi kesempatan sebagai pelarian dari persoalan-per-soalan sehari-hari untuk sementara waktu.
Sebenarnya siaran TV di negara kita sebagian terbesar berisi program siaran pendidikan dan kalau diisi siaran hiburan, itupun sebagian juga bertemakan atau membawakan pesan pendidikan juga. Dengan demikian TVRI kita bermanfaat secara maksimal sebagai media pendidikan masyarakat umum. Dan memang siaran TV yang baik ialah menyampaikan pesan yang bersifat mendidik dan sekaligus menghibur.

Keistimewaan TV sebagai media pendidikan
Beberapa kelebihan penggunaan TV sebagai media pendidikan antara lain ialah:
1. TV menyajikan suara dan rupa sekaligus serta daya jangkauan siarannya yang luas, sehingga sejumlah besar orang dalam wilayah tertentu dalam waktu yang sama mendapatkan pengalaman yang sama pula (keseragaman informasi).
2. Realistis dan langsung.
Peristiwa yang sedang terjadi pada saat itu dapat disiarkan
dan dapat dilihat oleh banyak orang tanpa melalui proses
rekaman dan editing seperti film.
3. TV merupakan “kendaraan yang berubah-ubah muatannya” Siarannya TV dapat memberikan bermacam-macam sajian mulai dari bentuk ceramah biasa sampai dengan teknik karya wisata, mulai dengan alat visual papan tulis, gambar, model-model sampai dengan pertunjukkan film.
4. TV dapat menciptakan kembali semua peristiwa masa lampau, baik berupa rekaman video, film, ataupun drama.
5. TV dapat melatih guru, baik untuk pendidikan “pre service” maupun untuk “inservice training”.
6. TV dapat memperluas tinjauan kelas (bagi siswa-siswa sekolah) dan dapat membuat masyarakat mengerti tentang sekolah dan pendidikan pada umumnya.

Bentuk-bentuk siaran pendidikan melalui TV
Beberapa bentuk siaran pendidikan melalui TV antara lain:
1. Ceramah biasa
Seorang pendidik berceramah lewat layar TV tanpa bantuan alat visual lainnya. Agar tidak menjemukan penonton biasanya digunakan beberapa kamera untuk bergantian mengambil gambarnya.
2. Ceramah dengan bantuan alat visual lainnya.
Pengajar dapat menggunakan gambar-gambar bagan, papan tulis, bahkan dapat diselingi dengan hasil rekaman video.
3. Wawancara.
Wawancara ini terdiri atas orang yang mewawancarai dan diwawancarai. Yang diwawancarai bisa satu orang saja atau bisa juga terdiri dari beberapa orang.
4. Diskusi/diskusi panel.
Dalam siaran ini memperlihatkan beberapa orang yang sedang berdiskusi pada layar TV. Diskusi dipimpin oleh seorang moderator dan biasanya dalam bentuk diskusi yang pesertanya terbatas atau berbentuk diskusi panel yang pesertanya 3 atau 4 orang saja.
5. Sandiwara.
Sandiwara ini dapat dilakukan langsung, tetapi pada umumnya melalui rekaman terlebih dahulu.
6. Beberapa bentuk sajian lainnya seperti program cerdas cermat, ceritera boneka, ceritera bergambar, film, dan sebagainya.


Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka tuhan memudahkn bagi orang itu krn ilmu trsebut jalan menuju surga

SMOGA BERMANFAAT

Rabu, 10 Maret 2010

KONSEP DASAR ANTROPOLOGI KESEHATAN

TUJUAN INSTRUKTIONAL KHUSUS
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Menjelaskan manusia sebagai makluk holistic dengan tepat dan benar
2. Menjelaskan manusia sebagai system dengan tepat & benar
3. Menjelaskan pengertian lingkungan dengan tepat dan benar
4. Menyebutkan macam lingkungan dengan tepat dan benar
5. Menjelaskan hubungan lingkungan dengan kesehatan dengan tepat dan benar
6. Menjelaskan hubungan lingkungan dengan timbulnya penyakit dengan tepat dan benar
7. Menjelaskan pengertian sehat dengan tepat dan benar
8. Menyebutkan dan menjelaskan model sehat sakit dengan tepat dan benar
9. Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi keyakinan & tindakan sehat dengan tepat dan benar
10. Menjelaskan pengertian perawatan dengan tepat dan benar
11. Menjelasakan peran & fungsi perawat dengan tepat dan benar


1. KONSEP MANUSIA
A. Manusia sebagai makhluk holistic
Holistik berarti keseluruhan / utuh
model of the components of the holistic person :
a Biologic
Manusia merupakan suatu susunan system organ tubuh
Mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya
Tidak terlepas dari hukum alam dilahirkan berkembang sampai mati
b Psikologik
Manusia mempunyai struktur kepribadian
Tingkah laku sebagai manifestasi dari kejiwaan
Mempunyai daya fikir dan kecerdasan
Mempunyai kebutuhan psikologi agar pribadi dapat berkembang
c Sosial
Manusia perlu hidup bersama orang lain dan saling kerja sama untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya
Dipengaruhi oleh kebudayaan
Dipengaruhi dan beradaptasi dengan lingkungan social
Dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan harapan dan norma yang ada
d Kultural
Manusia mempunyai nilai dan kebudayaan yang membentuk jatidirinya
Sebagai pembeda dan pembatas dalam hidup sosial
Kultur dalam diri manusia bisa diubah dan berubah tergantung lingkungan manusia hidup.
e Spiritual
Mempunyai keyakinan / mengaku adanya Tuhan
Memiliki pandangan hidup, dorongan hidup yang sejalan dengan sifat religius yang dianutnya
Teori Holistik
Seluruh organisme hidup saling berinteraksi. Adanya gangguan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain. Jika mempelajari satu bagian dari manusia harus mempertimbangkan bagaimana bagian tersebut berhubungan dengan bagian yang lain.

B. Manusia sebagai system
Sistem terdiri dari :
a. Unsur – unsur { kompenen , elemen , sub system }
b. Batasan
c. Tujuan
a Manusia sebagai system terbuka
Manusia merupakan system terbuka, dimana manusia adalah mahluk yang dinamis, belajar mengembangkan diri, selalu berinteraksi dengan alam dan lingkungannya, serta saling mempengaruhi satu sehingga mengalami perkembangan bio psiko sosio dan spiritual. Tujuan utama manusia sebagai sebuah system terbuka adalah :
a) Manusia mampu pertahan hidup di dunia dan berusaha mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
b) Manusia dapat menempatkan diri di dalam lingkungannya dalam segala situasi dan bertahan untuk dapat tetap dalam keadaan sehat.
c) Derajat kesehatan ditentukan oleh kemampuan manusia dalam menerima segala pengaruh baik dari dirinya (dalam) ataupun dari orang lain (luar)
Manusia sebagai system terbuka terdiri dari berbagai sub system yang saling berhubungan secara terintegrasi untuk menjadi satu total system
a) Komponen Biologik : anatomi tubuh
b) Komponen Psikologik : kejiwaan
c) Komponen Sosial : lingkungan
d) Komponen Kultural : nilai budaya
e) Komponen Spiritual : Kepercayaan agam
b Manusia sebagai system adaptif
Adaptasi adalah Proses perubahan yang menyertai individu dalam berespon terhadap perubahan lingkungan mempengaruhi integritas atau keutuhan
Lingkungan : seluruh kondisi keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan organisme atau kelompok organisme
4 Tingkatan dan respon fisiologik untuk memudahkan adaptasi
a) Respon takut { mekanisme bertarung }
b) Respon inflamasi
c) Respon stress dan
d) Respon sensori
Roy { 1976 } Prilaku adaptif merupakan perilaku individu secara utuh
Beradaptasi dan menangani rangsang lingkungan
c Manusia sebagai system personal, interpersonal dan social
King { 1976 } : 3 dinamik system interaksi dalam konsep manusia
Individu
{ system personal } Keluarga
{ system interpersonal } Masyarakat
{ Sistem social }
Perawat harus mengerti tentang:
a. Self
b. Persepsi
c. Tumbuh kembang Perawat harus mengerti tentang:
a. Konsep interaksi
b. Konsep peran
c. Konsep komunikasi Perawat harus mengerti tentang:
a. Konsep organisasi
b. Konsep power
c. Otoritas
d. Pengambilan keputusan


2. KONSEP LINGKUNGAN
A. Pengertian Lingkungan
Lingkungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah daerah ( kawasan dsb) yang termasuk didalamnya.
Lingkungan adalah faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia dan mencakup antara lain lingkungan sosial, status ekonomi dan kesehatan. Fokus ingkungan yaitu lingkungan fisik, psikologi, sosial,budaya dan spiritual.

B. Macam Lingkungan
Lingkungan dibagi 2 yaitu :
a. Lingkungan dalam terdiri dari:
1) Lingkungan fisik (physical enviroment)
Merupakan lingkungan dasar/alami yang berhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan.
Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posiis pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.
2) Lingkungan psikologi (psychologi enviroment)
F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsanag semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya.
Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya.
Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungna dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.
3) Lingkungan sosial (social environment)
Observasi dari lingkungan sosial terutama hubungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.
Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungan individu paien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus
b. Lingkungan luar ( kultur, adat, struktur masyarakat, status sosial, udara, suara, pendidikan, pekerjaan dan sosial ekonomi budaya )
C. Hubungan Lingkungan Dengan Kesehatan
Lingkungan dengan kesehatan sangat berpengaruh karena dengan cara terapi lingkungan dapat membantu perawat dalam menjaga pola pertahanan tubuh terhadap penyakit untuk meningkatkan pola interaksi yang sehat dengan klien.
D. Hubungan Lingkungan Dengan Timbulnya Penyakit
Lingkungan dengan timbulnya penyakit yaitu apabila lingkungan kita kotor dan tidak bersih maka akan berpotensi sekali untuk terciptanya banyak penyakit – penyakit.
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi kesehatan dimana apabila lingkungan itu kotor maka kesehatan manusia akan terganggu sehingga manusia perlu merawat dirinya atau membutuhkan perawatan dari orang lain.keperawatan dengan lingkungan juga sangat berpengaruh dimana jika seseorang sedang rehabilitasi maka akan memerlukan lingkungan yang bersih.

3. KONSEP KESEHATAN
A. Definisi Sehat
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang po¬sitif (Edelman dan Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi ling¬kungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit




B. Model Sehat Sakit
a. Model Rentang Sehat-Sakit (Neuman)
Menurut Neuman (1990): ”sehat dalam suatu rentang merupakan tingkat kesejahteraan klien pada waktu tertentu , yang terdapat dalam rentang dan kondisi sejahtera yang optimal , dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian yang menandakan habisnya energi total”
Jadi menurut model ini sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, inteletual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat.
Sedangkan Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.
Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik tertentu pada skala Rentang Sehat-Sakit.







Dengan model ini perawat dapat menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan rentang sehat-sakitnya. Sehingga faktor resiko klien yang merupakan merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan dalam mengidentifikasi tingkat kesehatan klien. Faktor-faktor resiko itu meliputi variabel genetik dan psikologis.
Kekurangan dari model ini adalah sulitnya menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang itu (Kesejahteraan Tingkat Tinggi – Kematian). Misalnya: apakah seseorang yang mengalami fraktur kaki tapi ia mampu melakukan adaptasi dengan keterbatasan mobilitas, dianggap kurang sehat atau lebih sehat dibandingkan dengan orang yang mempunyai fisik sehat tapi mengalami depresi berat setelah kematian pasangannya.
Model ini efektif jika digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan saat ini dengan tingkat kesehatan sebelumnya. Sehingga bermanfaat bagi perawat dalam menentukan tujuan pencapaian tingkat kesehatan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
b. Model Kesejahteraan Tingkat Tinggi (Dunn)
Model yang dikembangkan oleh Dunn (1977) ini berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada individu melalui perubahan perilaku.
Pada pendekatn model ini perawat melakukan intervensi keperawatan yang dapat membantu klien mengubah perilaku tertentu yang mengandung resiko tinggi terhadap kesehatan
Model ini berhasil diterapkan untuk perawatan lansia, dan juga digunakan dalam keperawatan keluarga maupun komunitas


c. Model Agen-Pejamu-Lingkungan(Leavell at all.)
Menurut pendekatan model ini tingkat sehat dan sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan dinamis antara Agen, Pejamu, dan Lingkungan.








Agen :Berbagai faktor internal-eksternal yang dengan atau tanpanya dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau sakit. Agen ini bisa bersifat biologis, kimia, fisik, mekanis, atau psikososial.  jadi Agen ini bisa berupa yang merugikan kesehatan (bakteri, stress) atau yang meningkatkan kesehatan (nutrisi, dll).
Pejamu: Sesorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap penyakit/sakit tertentu.
Faktor pejamu antara lain: situasi atau kondisi fisik dan psikososoial yang menyebabkan seseorang yang beresiko menjadi sakit.
Misalnya: Riwayat keluarga, usia, gaya hidup dll.
Lingkungan: seluruh faktor yang ada diluar pejamu.
Lingkungan fisik: tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal, penerangan, kebisingan
Lingkungan sosial: Hal-hal yang berkaitan dengan interaksi sosial, misalnys: stress, konflik, kesulitan ekonomi, krisis hidup.
Model ini menyatakan bahwa sehat dan sakit ditentukan oleh interaksi yang dinamis dari ketiga variabel tersebut. Menurut Berne et al (1990) respon dapat meningkatkan kesehatan atau yang dapat merusak kesehatan berasal dari interaksi antara seseorang atau sekelompok orang dengan lingkungannya.
Selain dalam keperawatan komunitas model ini juga dikembangkan dalam teori umum tentang berbagai penyebab penyakit.

d. Model Keyakinan-Kesehatan
Model Keyakinan-Kesehatan menurut Rosenstoch (1974) dan Becker dan Maiman (1975) menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan perilaku yang ditampilkan.
Model ini memberikan cara bagaimana klien akan berprilaku sehubungan dengan kesehatan mereka dan bagaimana mereka mematuhi terapi kesehatan yang diberikan.
Terdapat tiga komponen dari model Keyakinan-Kesehatan antara lain:
Persepsi Individu tentang kerentanan dirinya terhadap suatu penyakit.
Misal: seorang klien perlu mengenal adanya pernyakit koroner melalui riwayat keluarganya, apalagi kemudian ada keluarganya yang meninggal maka klien mungkin merasakan resiko mengalami penyakit jantung.
Persepsi Individu terhadap keseriusan penyakit tertentu.
Dipengaruhi oleh variabel demografi dan sosiopsikologis, perasaan terancam oleh penyakit, anjuran untuk bertindak (misal: kampanye media massa, anjuran keluarga atau dokter dll)
Persepsi Individu tentang manfaat yang diperoleh dari tindakan yang diambil.
Seseorang mungkin mengambil tindakan preventif, dengan mengubah gaya hidup, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi medis, atau mencari pengobatan medis.
Model ini membantu perawat memahami berbagai faktor yang dapat mempengaruhi persepsi, keyakinan, dan perilaku klien, serta membantu perawat membuat rencana perawatan yang paling efektif untuk membantu klien, memelihara dan mengembalikan kesehatan serta mencegah terjadiny penyakit





























e. Model Peningkatan-Kesehatan (Pender)
Dikemukakan oleh Pender (1982,1993,1996) yang dibuat untuk menjadi sebuah model yang menyeimbangkan dengan model perlindungan kesehatan.
Fokus dari model ini adalah menjelaskan alasan keterlibatan klien dalam aktivitas kesehatan (kognitif-persepsi dan faktor pengubah).


















Berdasarkan gambar diatas Model ini dapat:
Mengidentifikasi berbagai faktor (demografik, sosial) yang dapat meningkatkan atau menurunkan partisifasi untuk meningkatkan kesehatan.
Mengatur berbagai tanda kedalam sebuah pola untuk menjelaskan kemungkinan munculnya partsisipasi klien dalam perilaku peningkatan kesehatan.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keyakinan Dan Tindakan Kesehatan
a. Faktor Internal
a) Tahap Perkembangan
Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda.
Untuk itulah seorang tenaga kesehatan (perawat) harus mempertimbangkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan klien pada saat melakukan perncanaan tindakan. Contohnya: secara umum seorang anak belum mampu untuk mengenal keseriusan penyakit sehingga perlu dimotivasi untuk mendapatkan penanganan atau mengembangkan perilaku pencegahan penyakit..
b) Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit , latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu.
Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir seseorang termasuk kemampuan untuk memehami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga kesehatan sendirinya.
c) Persepsi tentang fungsi
Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan terhadap kesehatan dan cara melak¬sanakannya. Contoh, seseorang dengan kondisi jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti. Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan pada masing-masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang sudah berhasil sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan cara mereka melaksanakannya.
Untuk itulah perawat mengkaji tingkat kesehatan klien, baik data subjektif yiatu tentang cara klien merasakan fungsi fisiknya (tingkat keletihan, sesak na¬pas, atau nyeri), juga data objektif yang aktual (seperti, tekanan darah, tinggi badan, dan bunyi paru). Informasi ini memungkinkan perawat me¬rencanakan dan mengimplementasikan perawatan klien secara lebih berhasil.
d) Faktor Emosi
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya.
Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan dengan cara mengkhawa-tirkan bahwa penyakit tersebut dapat mengancam kehidu¬pannya.
Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang mungkin mempunyai respons emosional yang kecil selama ia sakit.
Seorang individu yang tidak mampu mela¬kukan koping secara emosional terhadap ancaman penya¬kit mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. Con¬toh: seseorang dengan napas yang terengah-engah dan se¬ring batuk mungkin akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak dapat menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan. Banyak orang yang memiliki reaksi emosional yang berlebihan, yang berlawanan dengan kenyataan yang ada, sampai-sampai mereka berpikir tentang risiko menderita kanker dan akan menyangkal adanya gejala dan menolak untuk mencari pengobatan. Ada beberapa penyakit lain yang dapat lebih diterima secara emosional, sehingga mereka akan menga-kui gejala penyakit yang dialaminya dan mau mencari pengobatan yang tepat.
e) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.
Spiritual bertindak sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam kehidupan seseorang. Spiritual seseorang akan mempengaruhi cara pandangnya terhadap kesehatan dilihat dari perspektif yang luas. Fryback (1992) menemukan hubungan kesehatan dengan keya-kinan terhadap kekuatan yang lebih besar, yang telah memberikan seseorang keyakinan dan kemampuan untuk mencintai. Kesehatan dipandang oleh beberapa orang sebagai suatu kemampuan untuk menjalani kehidupan secara utuh. Pelaksanaan perintah agama merupakan suatu cara seseorang berlatih secara spiritual. Ada beberapa agama yang melarang penggunaan bentuk tindakan pengobatan tertentu, sehingga perawat hams memahami dimensi spiritual klien sehingga mereka dapat dilibatkan secara efektif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
b. Faktor Eksternal
a) Praktik di Keluarga
Cara bagaimana keluarga menggunakan pelayanan kesehatan biasanya mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatannya.
Misalnya:
Jika seorang anak bersikap bahwa setiap virus dan penyakit dapat berpotensi mejadi penyakit berat dan mereka segera mencari pengobatan, maka bisasnya anak tersebut akan malakukan hal yang sama ketika mereka dewasa.
Klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan pencegahan jika keluarganya melakukan hal yang sama. Misal: anak yang selalu diajak orang tuanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, maka ketika punya anak dia akan melakukan hal yang sama.
b) Faktor Sosioekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya.
Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya hidup, dan lingkungan kerja.
Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan kesehatan dan cara pelaksanaannya.
c) Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan pribadi.
Untuk perawat belum menyadari pola budaya yang berhubungan dengan perilaku dan bahasa yang digunakan.


4. KEPERAWATAN
A. Pengertian
Pada lokakarya nasional 1983 telah disepakati pengertian keperawatan adalah pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio psiko sosio spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Florence Nightingale (1895) mendefinisikan keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan pasien alam kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak.

Calilista Roy (1976) mendefinisikan keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah upaya pemberian pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan professional, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, standart pelayanan dengan berpegang teguh kepada kode etik yang melandasi perawat professional secara mandiri atau memalui upaya kolaborasi.
B. Peran Perawat
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari :
a. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.

b. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien meliputi :
a) Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
b) Hak atas informasi tentang penyakitnya
c) Hak atas privacy
d) Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
e) Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.


c. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

d. Sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.


e. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.

f. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan

g. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan

C. Fungsi Perawat
a. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk memenuhi KDM.

b. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.

c. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.

Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal.
Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat – kiat itu adalah :
a) Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu : nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar, mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
b) Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan kliennya.
c) Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
d) Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
e) Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
f) Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya
g) Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
h) Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.
i) Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
j) Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya
k) Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang, frustasi dan rasa puas klien.
l) Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang lain
Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau kurangnya kemampuan.
Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan praktik keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 : 80).

“Alloh tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya......”
(QS. Al- Baqoroh :286)

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

TUJUAN INSTRUKTIONAL KHUSUS
Setelah mempelajari bab ini peserta didik mampu:
1. Menjelaskan kebutuhan dasar manusia menurut maslow dengan tepat dan benar
2. Menjelaskan karakteristik kebutuhan dasar manusia dengan tepat & benar
3. Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dengan tepat dan benar

Manusia adalah satu dari sekian banyak mahluk ciptaan tuhan yang diberikan banyak kelebihan dari mahluk yang lain. Manusia adalah mahluk yang utuh dan unik. Sebagai mahluk yang utuh manusia terdiri dari bio psiko sosio dan spiritual.
Manusia adalah terdiri dari satu kesatuan yang merupakan karakteristik dan berakal, memiliki sifat-sifat yang unik yang ditimbulkan oleh berbagai macam-macam kebudayaan.
Dikatakan unik karena manusia memiliki beragai macam perbedaan dengan setiap manusia lain, mempunyai cara yang berbeda dalam upaya memenuhi kebutuhannya

Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan yang sama tetapi adakalanya suatu kebutuhan lebih penting bagi seseorang dari pada kebutuhan lainnya begitu pula dengan bagaimana cara memenuhinya. Artinya betapapun arif dan bijaksanannya ataupun bagaimana kerasnya usaha perawat ia tidak mungkin pernah bisa menyelami atau memenuhi segala sesuatu yang diperlukan oleh klien dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini disebabkan pengetahuan manusia untuk mengetahui kebutuhan orang lain sangat terbatas, namun demikian perawat dapat melakukan beberapa hal untuk dapat mengetahui kebutuhan klien, antara lain :
Menciptakan rasa kekeluargaan dengan klien
Berusaha mengerti maksud klien
Peka terhadap ekspresi non verbal klien
Mendorong klien mengekspresikan perasaannya
Berusaha mengenal dan menghargai klien.

Abraham Maslow { 1970 } mengembangkan teori KDM :
Hirarki kebutuhan manusia
Kebutuhan pada satu tingkat harus terpenuhi sebelum beralih ke tingkat berikutnya
5 Kategori kebutuhan dasar manusia menurut Maslow :
1. Kebutuhan fisiologis { Physiologic needs }
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan { safety and security needs }
3. Kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki { love and belonging needs }
4. Kebutuhan harga diri { self-esteem needs }
5. Kebutuhan perwujudan diri { need for self actualization }

Kebutuhan Fisiologis
a. Oksigen dan pertukaran gas
b. Cairan
c. Makanan
d. Eliminasi
e. Istirahat dan tidur
f. Aktifitas
g. Keseimbangan temperatur tubuh
h. Sex
Kebutuhan rasa aman { aspek fisik dan psikologi }
a. Kebutuhan akan perlindungan dari udara, dingin, panas,cuaca jelek, kecelakaan, infeksi, alergi, terhindar dari pencurian dan mendapatkan perlindungan hukum
b. Bebas dari ketakutan, kecemasan
Kebutuhan rasa cinta, memiliki, dan dimiliki
a. Memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, ingin dicintai individu/kelompok
b. Mendapat tempat dalam keluarga dan kelompok social
Kebutuhan harga diri
a Perasaan tidak tergantung, kompeten, respek terhadap diri sendiri dan orang lain
b Dihargai dalam pekerjaan, profesi, kecakapan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Kebutuhan perwujudan diri/aktualisasi diri
a Dapat mengenal diri dengan baik tidak emosional, punya dedikasi tinggi, kreatif, percaya diri dan sebagainya
b Kepuasan bekerja sesuai dengan potensi dan dilaksanakan dengan senang hati serta jika berhasil mendapat pengakuan orang lain.

Karakteristik kebutuhan dasar manusia :
1. Setiap orang mempunyai kebutuhan dasar yang sama dimana setiap kebutuhan dimodifikasi sesuai dengan kultur.
2. Seseorang memenuhi kebutuhannya sesuai prioritas.
3. Walaupun kebutuhan umumnya harus dipenuhi, beberapa kebutuhan dapat ditunda.
4. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menghasilkan ketidak-seimbangan hemeostatik yaitu sakit.
5. Kebutuhan dapat membuat seseorang berfikir dan bergerak untuk memenuhi rangsang internal dan eksternal.
6. Seseorang dapat merasakan adanya kebutuhan dapat berespon dengan berbagai cara.
7. Kebutuhan saling berkaitan beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi akan mempengaruhi kebutuhan lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan :
1. Penyakit
Berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan. Perawat dapat membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan pada setiap saat.
2. Hubungan yang berarti Keluarga, support person
Perawat dapat membina hubungan yang berarti dengan pasien. Dapat membantu pasien menyadari kebutuhan mereka dan mengembangkan cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan.
3. Konsep diri
Mempunyai kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dan juga kesadarannya apakah kebutuhan tepenuhi atau tidak. Orang yang merasa dirinya baik, mudah untuk berubah, mengenal kebutuhan dan mengembangkan cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan.
4. Tahap perkembangan
a. Erikson : jika individu dapat membina hubungan intimacy, maka kebutuhan cinta dan rasa memiliki terpenuhi.
b. Maslow : kebutuhan aktualisasi dirinya utuh mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Realistik, melihat kehidupan secara penuh dan objektif, tentang apa yang diobservasinya.
2. Cepat menyesuaikan diri dengan orang lain.
3. Mempunyai persepsi yang tinggi dan tegas.
4. Mempunyai dugaan yang benar terhadap sesuatu kebenaran dan kesalahan.
5. Sering / selalu akurat dalam memprediksi kejadaian yang akan datang.
6. Mengerti seni, musik, politik dan filosofi.
7. Rendah hati, mendengar orang lain dengan penuh perhatian.
8. Mempunyai dedikasi untuk bekerja sama, bertugas dari tempat kerja.
9. Berkreatifitas, fleksibel, spontan, berani dan sudi mengakui kesalahan.
10. Terbuka ide-ide baru.
11. Percaya diri dan menghargai diri.
12. Konfliks diri yang rendah, kepribadian yang interaksi.
13. Menghargai diri sendiri, tidak membutuhkan kemasyuran mempunyai perasaan kontrol terhadap diri sendiri.
14. Kemandirian tinggi, mempunyai hasrat privacy.
15. Dapat tampil, tidak mengecilkan diri, objektif dan tidak memihak.
16. Bersahabat, menyayangi dan lebih banyak menentukan dilingkungannya.
17. Dapat mengambil keputusan apabila ada pertentangan pendapat.
18. Berfokus pada masalah { problem centred } tidak berfokus pada pribadi.
19. Menerima dunianya apa adanya.